Monday, February 29, 2016

PERBEDAAN IFRS DAN PSAK



Metode penyusunan perbedaan dilakukan dengan membandingkan antara konsep yang terdapat di IFRS dengan yang terdapat dalam PSAK dan disusun berdasarkan urutan standar yang digunakan IFRS. Secara kerangka dasar perbedaan IFRS dan PSAK dapat dilihat pada table:
PENDAHULUAN DAN KERANGKA DASAR (IAS 1; PSAK 1)

No
Perbedaan
IFRS
PSAK
Efek Konvergensi
1
Cakupan Pengaturan
Desain IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profitoriented dan SME (Small Medium Enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi untuk perusahaan berbasis syariah.
SAK diperuntukkan untuk Entitas yang bersifat profitoriented, Nirlaba, UKM (Usaha kecil menengah) yang disebut SAK-ENTAP, dan Perusahaan berbasis syariah.
Akan ada penerapan standar yang bersifat setengah setengah terhadap perusahaan yang berbasis syariah.
2
Kerangka Dasar
Memungkinkan penilaian aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud menggunakan nilai wajar. Laporan keuangan harus disajikan dengan basis true and fair (IFRS Framework par 46)
Sama seperti IFRS, PSAK memberikan alternatif penggunaan nilai wajar untuk menilai kembali aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Laporan keuangan disajikan dengan basis “fairly stated” (Kerangka dasar par 46)

3
Pernyataan kepatuhan akan Standar
Entitas harus membuat pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar IFRS
Entitas tidak harus membuat pernyataan kepatuhan akan SAK
Harus dibuat pernyataaneksplisit akan kepatuhan pada PSAK di CALK
4
PrinsipKetepatanWaktu(Timeliness)
Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan
Dianjurkan agar entitas menyajikan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca
Perlunya penyesuaianaturan terkait dengan kewajibanentitas untuk memenuhi kewajiban perpajakan dalam menyampaikan SPT Tahunan paling lambat tanggal 31 Maret untuk WP Orang Pribadi dan 30April untuk WPBadan
5
Basis Standar
Menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi,akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global.
Menganut standar akuntansi berbasis aturan.

6
PrinsipKonservatif
Tidak lagi mengakui prinsip konservatif, namun diganti dengan prinsip kehati-hatian (Prudence)
Masih mengkui prinsip konservatif




CONTOH PERBEDAAN ANTARA IFRS DAN PSAK
PENGUNGKAPAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN (IAS 1; PSAK 1 REV 1998)


No
Perbedaan
IFRS
PSAK
Efek Konvergensi

1
KomponenLaporan Keuangan yang lengkap
Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :-        Laporan posisi keuangan(neraca)-        Laporan laba rugi komprehensif-        Laporan perubahan ekuitas-        Laporan arus kas-        Catatan atas laporan keuangan-        Laporan posisi keuangan komparatif awal periode dan penyajian retrospektif terhadap penerapan kebijakan akuntansi
Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :-        Neraca-        Laporan laba rugi-        Laporan perubahan ekuitas-        Laporan arus kas-        Catatan atas laporan keuangan


2
Pengungkapan dalam Laporan posisikeuangan(neraca)
Berdasar ilustrasi IFRS :

Berdasar PSAK:


Aset: Aset TidakLancarAset lancar
Ekuitas: Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilikentitas indukHak nonpengendali
Aset: AsetLancarAset TidakLancar
Laibilitas Laibilitasjangka pendekLaibilitas jangka panjang


Ekuitas Hak nonpengendaliEkuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk



Laibilitas Laibilitasjangka panjangLaibilitasjangka pendek











3
Istilah minority interest
Istilah minority interest (hak minoritas) diganti menjadi non controlling interest (hak non pengendali) dan disajikan dalam Laporan perubahan ekuitas.
Menggunakan istilah hak minoritas


4
Pos luar biasa (extraordinary item)
Tidak mengenal istilah pos luar biasa (extraordinary item)
Masih memakai istilah pos luar biasa (extraordinary item)


5
Penyajianlaibilitasjangka panjang yang akan dibiayai kembali
Laibilitas jangka panjang disajikan sebagai Laibilitas jangka pendek jika akan jatuh tempo dalam 12 bulan meskipun perjanjian pembiayaan kembali sudah selesai setelah periode pelaporan dan sebelum penerbitan laporan keuangan
Tetap disajikan sebagai Laibilitas jangka panjang



Penetapan IFRS sebagai standar internasional dalam pelaporan keuangan bertujuan untuk memudahkan penulisan dan pelaporan keuangan bagi para investor. Dengan adanya standar yang berlaku secara global mengakibatkan perusahaan tidak perlu mengganti stadar pelaporan mereka agar dapat dimengerti oleh investor yang mungkin berasal dari berbagai Negara. Dengan satu standar internasional juga dapat mengurangi biaya yang timbul dari konvergensi atau penyesuaian laporan keuangan yang dibuat.
Di Indonesia sendiri standar yang digunakan perusahaan atau organisasi bisnis untuk membuat laporan keuangan adalah PSAK. Sekarang ini dengan adanya perkembangan IFRS sebagai standar baru mengakibatkan diadopsinya standar IFRS ke dalam standar PSAK. Adopsi IFRS ke dalam PSAK tidak dilakukan secara langsung tetapi dilakukan secara bertahap, adopsi secara bertahap ini juga memunculkan beberapa perbedaan dalam standar IFRS dan PSAK. Dengan adanya perbedaan antara kedua standar tersebut tidak berarti IFRS tidak berlaku di Indonesia ataupun sebaliknya. Akan tetapi, standar yang tetap berlaku di Indonesia adalah PSAK sehingga pelaporan keuangan tetap harus mengikuti standar ini.

Aturan-aturan Akuntansi



Untuk menguasai ilmu Akuntansi aturan ini wajib diingat dan dipahami. Jika seorang ACCOUNTING tidak paham tentang aturan ini dapat dipastikan logika jurnalnya kacau.
Aturan 1 : Klasifikasi Perkiraan
Menurut sifatnya perkiraan diklasifikasikan sebagai aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, dan biaya. Ingat juga identifikasi nomor perkiraannya yaitu: (1) aktiva, (2) kewajiban, (3) modal, (4) pendapatan, (5) hpp, (6) biaya, (8) pendapatan lainnya, (9) biaya lainnya.
Secara garis besar klasifikasi perkiraan di atas dikelompokan menjadi 2 yaitu:
1) Perkiraan Neraca ( aktiva, kewajiban dan modal)
2) Perkiraan Rugi-Laba (pendapatan dan biaya)

Aturan 2 : Fungsi Debit dan Kredit dalam Perkiraan
aturan ini sangat prinsipil sehingga sangat perlu pemahaman yang mendalam.
Aktiva : bertambah ( + ) dicatat di DEBIT, berkurang ( - ) dicatat di KREDIT
Hutang : bertambah ( + ) dicatat di KREDIT, berkurang ( - ) dicatat di DEBIT
Modal : bertambah ( + ) dicatat di KREDIT, berkurang ( - ) dicatat di DEBIT
Pendapatan : bertambah ( + ) dicatat di KREDIT, berkurang ( - ) dicatat di DEBIT
Biaya : bertambah ( + ) dicatat di DEBIT, berkurang ( - ) dicatat di KREDIT
jika kesulitan untuk menghapalnya bisa gunakan tabel untuk lebih mudahnya

Aturan 3 : Pencatatan dengan Perkiraan
Untuk mencatat suatu transaksi ke dalam jurnal perlu diteliti/dianalisa terlebih dahulu. Berikut tahapannya:
1) Tentukan pengaruh transaksi tersebut terhadap perkiraan
2) Tentukan perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut
3) Tentukan perkiraan mana yang akan di debit dan di kredit
4) Tentukan jumlah nominal yang di debit dan di kredit dan harus BALANCE

SALDO NORMAL
Jumlah penambahan yang dicatat dalam suatu perkiraan biasanya sama atau lebih besar dari jumlah pengurangnya. Oleh karena itu SALDO NORMAL semua perkiraan adalah POSITIF.
Bila sebuah perkiraan yang saldo normalnya debit ternyata bersaldo kredit atau sebaliknya, maka hal ini merupakan petunjuk adanya suatu kesalahan pencatatan atau keadaan yang luar biasa.
Berikut ini SALDO NORMAL setiap perkiraan menurut klasifikasinya :
aktiva = DEBIT
hutang = KREDIT
modal = KREDIT
pendapatan = KREDIT
biaya = DEBIT

5 Prinsip Akuntansi Yang Berlaku



Akuntansi merupakan sarana alat hitung menghitung yang merupakan sumber informasi dalam pengambilan keputusan suatu perusahaan. Agar informasi akuntansi bisa bermanfaat bagi manajer ataupun pemilik usaha, maka informasi harus disusun dalam bentuk yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan. maka dari itu dibutuhkan pengetahuan tentang  prinsip dasar yang mendasari seluruh keuangan dalam akuntansi. Adapun prinsip dasar akuntansi terdapat lima prinsip yang digunakan dalam mencatat transaksi. kelima prinsip dasar tersebut antara lain :
  1. Historical Cost Principle atau Prinsip Biaya Historis.
Dalam prinsip ini menghendaki penggunaan harga perolehan dalam mencatat aktiva, hutang, biaya dan modal. Contoh, saat kita akan membeli sebuah gadget, kita ditawari harga Rp.5.000.000, setalah melakukan tawar menawar jatuhlah harga gadget tersebut seharga Rp.4.900.000. Dari kondisi itu maka pencatatan kita yang muncul adalah angka Rp.4.900.000.
  1. Revenue Recognition Principle atau Prinsip Pengakuan Pendapatan.
Menjadi persoalan yang sangat penting bagi perusahaan tentang kapan pendapatan sudah harus diakui. Pendapatan dapat dikatakan terrealisasi apabila suatu produk sudah dipertukarkan dengan kas dan diakui saat penjualan. Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya suatu pendapatan ialah dari jumlah kas maupun ekuivalennya yang diterima dari hasil transaksi penjualan. Harga jual merupakan pengukuran objektif dari jumlah pendapatan yang diakui. 
  1. Matching Principle atau Prinsip Mempertemukan.
Maksud dari prinsip ini adalah mempertemukan biaya dengan hasil pendapatan yang muncul karena biaya yang telah dikeluarkan. Prinsip ini digunakan untuk menentukan besarnya penghasilan bersih dari setiap periodenya. Biasanya prinsip ini digunakan saat pembuatan jurnal penyesuaian. Adanya prinsip ini mengharuskan kita untuk menghitung berapa besar biaya yang dikeluarkan dan berapa banyak pendapatan yang akan diperoleh.
  1. Consistency Principle atau Prinsip Konsistensi.
Agar supaya laporan keuangan bisa kita bandingkan dari tahun ke tahun, maka metode dan prosedur yang kita gunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahunnya. Sehingga jika nanti terdapat perbedaan, maka kita bisa segera mengetahuinya bahwa perbedaan itu bukanlah selisih akibat dari penggunaan metode yang berbeda. Bukan berarti konsistensi dimaksudkan sebagai larangan dalam mengganti metode, tapi masih ada kemungkinan untuk melakukan perubahan metode yang sudah dipakai.
  1. Full Disclosure Principle atau Prinsip Pengungkapan Lengkap.
Prinsip ini ialah menyajikan sebuah informasi lengkap dalam sebuah laporan keuangan. Prinsip ini sangat diperlukan karena hanya melalui laporan keuanganlah kita bisa tahu kondisi dari suatu perusahaan dan mengambil suatu keputusan dari perusahaan tersebut. Jika informasi yang disajikan tidak lengkap, maka hal tersebut akan dapat menyesatkan pemakainya.

Tulisan Terpopuler

PERBEDAAN IFRS DAN PSAK

Metode penyusunan perbedaan dilakukan dengan membandingkan antara konsep yang terdapat di IFRS dengan yang terdapat dalam PSAK dan disu...