Monday, February 29, 2016

Audit Berbasis Risiko



Tinjauan umum
Bagian ini melihat secara utuh makna audit berdasarkan risiko melalui pemahaman beberapa konsep dasar yang saling berkaitan :

v  Reasonable Assurance (assurance yang layak)
Assurance adalah assurance yang tinggi tetapi bukan pada tingkat tinggi yang mutlak (absolute level of assurance). Assurace yang layak memperoleh audit yang cepat dan layak untuk menekan risiko audit.   Auditor ingin menekan risiko ketingkat rendah yang di terima. Auditor menarik kesimpulan audit nya dan berdasar kan opini atau pendapat nya kepada bukti bukti audit.

v  Inherent Limitations (Kendala Bawaan)
Ada beberapa kendala bawaan dalam audit  sebagai berikut :
1.      Sifat dan kuangan
Pembuatan laporan keuangan memerlukan judgment manajemen dalam meneapkan kerangka laporan keuangan dan keputusan dalam penilaian subjektif oleh manajemen dalam memilih berbagai tafsiran.

2.      Sifat bukti yang tersedia
Bukti audit terutama diperoleh melalui pelaksanaan prosedur audit. Bukti ini cenderung bersifat persuasif dan tidak konklusif. Bukti ini juga meliputi informasi dari sumber lain seperti audit yang lalu, prosedur  kendali mutu dalam rangka menerjemah atau melanjutkan hubungan dengan klien. Bukti audit yang dibuat tenaga ahli digunakan dalam catatan pembukuan entitas.

3.      Sifat prosedur Audit
Prosedur audit untuk menampilkan bukti audit untuk tidak mendeteksi informasi yang hilang, kecurangan yang canggih, disembunyikan dengan rapi. Setiap sampel kurang dari 100% mengandung risiko bahwa salah saji tidak akan terdeteksi.
4.      Laporan keuangan tepat waktu
Pemakaian laporan keuangan mempunyai ekspektasi bahwa auditor memiliki pendapat dalm meminta semua informasi yang mungkin adabahwa infrmasi mengandung kesalahan, kecurangan,sampai terbukti sebaliknya.

v  Audit scope (Lingkup audit)
Lingkup pekerjaan auditor dan opini yang diberikannya dibatasi pada menjawab pertanyaan. Setiap perluasan dari tanggung jawab audit yang utama, seperti yang mungkin diterapkan dalam ketentuan perundang-undanganmewajibkan auditor melaksanakan pekerjaan tambahan sesuai dengan perluasan tanggungjawabnya.

v  Material misstatement ( salah saji material)
Salah saji yang material bisa :
1.      Terjadi secara sendiri-sendiri atau bersama
2.      Berupa salah saji yang tidak dikoreksi
3.      Berupa pengungkapan yang menyesatkan tanpa laporan keuangan
4.      Berupa kesalahan (eror) atau kecurangan (fraud)

v  Asesi (assertions)
Asersi adalah pernyataan yang diberikan manajemen, secara eksplisit maupun implisit yang tercantum didalam laporan keuangan. Contoh : asersi bahwa sesuatu (unsur laporan keuangan) sudah lengkap berkaitan dengan semua transaksi dan peristiwa yang seharusnya dibukukan, memang sudah dibukukan. Asersi-asersi ini digunakan auditor untuk mempertimbangkan berbagai jenis kemungkinan salah saji yang bisa terjadi.

Risiko Audit
Risiko audit adalah risiko memberikan opini audit yang tidak tepat atas laporan keuangan yang disalah sajikan secara material. Risiko audit terdiri dari 2 unsur utama :

1.      Inherent risk ( risiko bawaan) dan control risk ( risiko pengendalian)
Sifat : laporan keuangan mungkin/berpotensi mengandung salah saji yang material
Sumber : tujuan/operasi entitas dan rancangan/implementasi pengendalian internal oleh manajemen.

2.      Detection risk (risiko pendeteksian)
Sifat : auditor mungkin gagan mendeteksi salah saji yang material dalam laporan keuangan
Sumber : sifat dan luasnya prosedur audit yang dilaksanaan auditor.

Melaksanakan Audit Berbasis Risiko
Pelaksanaan audit berbasis risiko, terdapat 4 pokok bahasan :
1.      Skeptisisme professional
Auditor wajib merencanakan dan melaksanakan suatu audit dengan Skekeptisi professional dengan menyadari bahwa mungkin ada situasi yang menyebabkan laporan keuangan disalah sajikan secara material.

2.      Kearifan professional
Auditor wajib melaksanakan kearifan professional dalam merencanakan dan melaksanakan suatu audit atas laporan keuangan.

3.      Asurans yang  layak
Untuk memperoleh asurans yang layak auditor memperoleh bukti auditor yang cukup dan tepat untuk menekan risiko audit ketingkat rendah yang dapat diterima, dengan demikian memungkinkan auditor menarik kesimpulan yang layak untuk digunakan sebagai dasar pemberian pendapat auditor.

4.      Gunakan tujuan sesuai ISAs yang relevan
Untuk mencapai tujuan seluruhnya auditor wajib menggunakan tujuan yang dinyatakan dalam ISAs yang relevan dalam merencanakan dan melaksanakan audit tersebut dengan memperhatikan keterkaitan diantara berbagai ISAs.


Suatu audit berbasis risiko mengandung tiga langkah kunci :
1.      Risk assessment (menilai risiko)
Melaksanakan prosedur penilaian risiko untuk mengindentifikasi risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan.

2.      Risk response ( menanggapi risiko)
Merancan dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya yang menganggapi risiko salah saji yang material yang telah diidentifikasi dan nilai, pada tingkat laporan keuangan dan arsersi.

3.      Reporting (pelaporan)
Tahap melaporkan meliputi
a.       Merumuskan bukti audit yang diperoleh
b.      Membuat dan menerbitkan laporan yang tepat, sesuai kesimpulan yang ditarik


Menilai Risiko
Tujuan auditor adalah mengindentifikasi dan menilai salah saji yang material, karena kecurangan atau kesalahan pada tingkat laporan keuangan dan asersi, melalui pemahaman terhadap entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian interentitas yang memberikan dasar untuk merancang dan mengimplementasi tanggapan terhadap risiko (salah saji material yang dinilai).

Menanggapi Risiko/Risk Response
Tujuan auditor adalah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang risiko (salah saji material) yang dinilai, dengan merancan dan mengimplementasi tanggapan yang tepat terhadap risiko tersebut. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan auditor dalam merencanakan kombinasi prosedur audit yang tepat untuk menanggapi risiko:
1.      Uji pengendalian
a.       Identifikasi pengendalian yang relevan yang jika diuji dapat mengurangi lingkup prosedur subtantif lainnya. Namun, tidak ada keharusan untuk menguji berfungsinya pengendalian intern (langsung atau tidak langsung)
b.      Identifikasi setiap asersi yagn tidak dapat di tangani dengan prosedur substantif saja.
2.      Prosedur analitikal substantif
Ini adalah prosedur dimana jumlah total sesuatu arus transaksi (misalnya penjualan) dapat di perkirakan dengan cukup tepat berdasarkan bukti yang tersedia. Ekspektasi atau perkiraan di bandingkan dengan jumlah ( penjualan) sebenarnya seperti tercataa dalam pembukuan, dan selisih nya atau salah saji langsung teridentifikasi.

3.      Pedadakan (unpredictability)
Dalam hal tertentu, auditor perlu memasukkan unsur pendadakan dalam prosedur audit misalnya ketika menanggapi salah saji material karna kecurangan.

4.      Management override
Auditor juga mempertimbangkan perlu nya prosedur audit yang spesifik menangani kemungkinan manajemen override atau putusan manajemen untuk meniadakan atau mengabaikan pengendalian dengan membuat “pengecualian”.

5.      Significant Risks
Istilah significant risks atau risiko signifikan dalam ISAs mempunyai makna khusus.

Pelaporan Atau Reporting
Tujuan auditor adalah merumuskan opini mengenai laporan keuangan berdasarkan evaluasi atas kesimpulan yang di tarik atas bukti audit yang di peroleh dan memberikan opini yang jelas, melalui laporan tertulis, yang juga menjelaskan dasar ( untuk memberikan) pendapat tersebut.

Dokumentasi
Dokumentasi audit yang cukup, di haruskan agar auditor yang berpengalaman, yang  tidak berhubungan dengan audit itu, memahami:
1.      Sifat,jadwal waktu, dan luas nya prosedur audit yang di laksanakan
2.      Hasil pelaksana prosedur tersebut dan bukti audit yang di peroleh dan
3.      Hal-hal penting yang timbul selama audit berlangsung kesimpulan yang di tarik dan kearifan professional yang di terapkan untuk sampai pada kesimpulan itu.
Dokumentasi audit untuk entitas yang lebih kecil umumnya tidak se ekstensif dokumen tasi audit yang entitas yang lebih besar.auditor tidak perlu mendokumentasikan :
1.      Hal kecil yang di pertimbnagkan, atau semua kearifan profesional yang di terapkan dalam audit dan
2.      Kepatuhan terhadap hal-hal yang di tunjukan dengan jelas dalam dokumen lain dalam audit file.

Manfaat Audit Berbasis Risiko
1.      Fleksibilitas waktu
Karena prosedur penilaian risiko tidak menguji transaksi dan saldo secar rinci, prosedur itu dalam di laksankan jauh sebelum akhir tahun (dengan asumsi , tidak ada perubahan operasinal yang besar).

2.      Upaya tim audit terfokus pada area kunci
Dengan memahami dimana risiko salah saji material bisa terjadi dalam laporan keuangan, auditor dapat mengarahkan tim audit ke hal-hal dan beriko tinggi dan mengurangi pekerjaan pada lower risk areas. Dengan demikian sumber daya atau staff audit di manfaatkan sebaik-baiknya.

3.      Prosedur audit terfokus pada risiko
Prosedur audit selanjutnya di rancang untuk menanggapi risiko yang di nilai. Oleh karena itu, uji rincian yang hanya menanggapi risiko secara umum akan dapat di kurangi secara signifikan atau bahkan sama sekali di hilangkan.

4.      Pemahaman atas pengendalian internal
Pemahaman terhadap pengandalian intern (yang di wajibkan ISA) memungkin auditor mengambil keputusan yang tepat, untuk menguji/tidak menguji efektif nya pengendalian intern.

5.      Komunikasi tepat waktu
Pemahaman terhadap pengendalian intern yang meningkat, memungkinkan auditor mengidentifikasi kelemahan dalam pengendalian intern, yang sebelumnya tidak di ketahui.

ISAs untuk Entitas Kecil
ISAs tidak membedakan pendekatan audit untuk entitas yang terdiri dari satu orang dan pendekatan audit untuk entitas yang mempekerjakan ribuan pegawai. Suatu audit adalah suatu audit, an audit is an audit! Konsekuensinya ialah, pendekatan dasar suatu audit tidak berubah sekedar karena entitasnya kecil.

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

PERBEDAAN IFRS DAN PSAK

Metode penyusunan perbedaan dilakukan dengan membandingkan antara konsep yang terdapat di IFRS dengan yang terdapat dalam PSAK dan disu...